Flowmeter

Flowmeter adalah alat untuk mengukur jumlah atau laju aliran dari suatu fluida yang mengalir dalam pipa atau sambungan terbuka.

Flowmeter umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu alat utama dan alat bantu sekunder. Alat utama menghasilkan suatu signal yang merespons terhadap aliran karena laju aliran tersebut telah terganggu. Alat utamanya merupakan sebuah orifis yang mengganggu laju aliran, yaitu menyebabkan terjadinya penurunan tekanan.
Alat bantu sekunder menerima sinyal dari alat utama lalu menampilkan, merekam, dan/atau mentrasmisikannya sebagai hasil pengukuran dari laju aliran.

Berikut bahan lengkap mengenai flowmeter : Fluid Flow Measurement

Seminar Nasional Teknik Mesin (SNTM) 2015

Seminar Nasional Teknik Mesin (SNTM) merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknik Mesin Universitas Kristen Petra (UK Petra). Pada tahun 2015 ini, SNTM akan diselenggarakan untuk ke sepuluh kalinya. Sejak pertama kali diadakan hingga SNTM yang ke-9, berbagai kontribusi dari para akademisi dan profesional yang terpilih menunjukkan bahwa kegiatan rutin ini telah menjadi media diskusi dan pertukaran informasi yang baik untuk membahas perkembangan penelitian dan inovasi di bidang Teknik Mesin.

Melihat peranan bidang Teknik Mesin yang vital dan strategis di industri serta menyadari pentingnya meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya, maka SNTM 10 ini mengusung tema “Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Bangsa Melalui Penelitian dan Inovasi di Bidang Teknik Mesin.” Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas penelitian yang baik dalam bidang Teknik Mesin sangat berperan dalam memajukan kegiatan industri. Oleh karena itu, melalui SNTM 10 ini karya-karya penelitian yang berkualitas diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi peningkatan produktivitas industri dan daya saing produk Indonesia.

Ruang lingkup makalah meliputi:

A. Bidang Manufaktur (proses manufaktur, sistem manufaktur, dan material).

B. Bidang Otomotif (kajian terkait mesin, pemindah daya, sistem kemudi, sistem suspensi, sistem rem, bodi, sistem listrik)

C. Bidang Konversi Energi (energi baru dan terbarukan, sistem pengkonversi energi termal, pengering, pendingin, pembakaran, mesin-mesin fluida, pemodelan & simulasi, dan teknologi tepat guna).

D. Desain (konstruksi, peralatan material handling, pemodelan & simulasi mekanik, desain produk, mekatronika, alat pertanian, dan teknologi tepat guna). Sumber ; http://sntm.petra.ac.id.

Seminar Nasional Teknik Mesin

Training Inventor, Solidwork dan AutoCad

Laboratorium desain dan manufaktur menyelenggarakan training/kursus Inventor, Solidworks dan AutoCad dalam satu paket, Kursus akan diadakan setiap Bulan , Kelas terbatas maksimal 20 orang. Untuk Informasi dan keterangan lebih lengkap dapat menghubungi saudara : Dwi Darsono, No HP : 085719895695 atau via email : dwi.tangerang80@gmail.comKursus Inventor Solidworks dan AutoCAD

Indonesia Sudah Dalam Tahap Bencana Energi

Dalam perayaan hari ulang tahun yang ke-70, Arifin Panigoro menggelar acara diskusi yang bertajuk‎ ‘Menanam Benih Kemandirian’. Salah satu yang dibahas menyangkut minyak
“Masalahnya, konsumsi energi kita terus naik, tapi produksi minyak nasional terus turun. Cadangan minyak makin sedikit,” ungkap Arifin di Energy Building, Jakarta, Sabtu (14/03/2015).

Menurut Arifin di 2014 lalu, produksi minyak nasional hanya 794 ribu barel per hari. Jumlah itu akan terus berkurang, dan diperkirakan di 2025 produksi minyak Indonesia hanya 453 ribu barel.

“Penurunan produksi ini karena banyak hal, salah satunya cadangan minyak terbukti yang tersedia saat ini hanya 3,7 miliar barel. Celakanya, upaya menambah cadangan minyak melalui eksplorasi sedang menurun, akibat harga minyak dunia sedang anjlok,” tambah Arifin.

Sehingga, menurut Arifin, butuh langkah-langkah terobosan agar masalah ini bisa dipecahkan. Arifin mengatakan, Indonesia menurut Price Waterhouse Cooper, akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-5 di dunia di 2030. Bagi Arifin, ramalan tersebut akan terwujud, bila Indonesia mempunyai pondasi ekonomi yang kokoh dan pertumbuhan‎ ekonomi yang terus terjaga.

“Ini saya harap Pak Dirman (Sudirman Said, Menteri ESDM) bisa memaparkan apa yang perlu dilakukan terkait energi ini. Karena ini kita bukan krisis energi lagi, tapi bencana energi,” tegas Arifin.
Dalam diskusi di hari ulang tahunnya ke-70, Arifin mengungkapkan Indonesia memiliki anugerah alam untuk menjawab krisis energi tersebut, yakni melalui pengembangan energi terbarukan (EBT).

“Indonesia adalah jawara produsen crude palm oil (CPO) atau minyak sawit yang mencapai 30 juta ton per tahun. Jumlah produksi CPO ini bisa ditingkatkan dengan pengembangan lahan-lahan kritis di tanah air sebagai kebun energi berbasis kelapa sawit,” kata dia.
Arifin mengungkapkan, berdasarkan studi Bappenas, saat ini ada sekitar 82 juta hektar lahan kritis yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai lahan untuk menanam kelapa sawit sebagai kebun energi. ‎

Sementara menurut perhitungannya, Indonesia hanya perlu 10 juta hektar saja, agar kebun energi tersebut bisa terealisasi. Sehingga, peluang bagi pengembangan EBT berbasis kelapa sawat sangat terbuka lebar.

Namun demikian, tentu hal tersebut tidak akan mungkin bisa dilakukan, tanpa ada dukungan kebijakan dari pemerintah. Untuk itu, menurutnya, keberpihakan pemerintah adalah kunci utamanya.

“Kita perlu setidaknya 10 juta hektar di antaranya untuk pengembangan green diesel berbasis kelapa sawit. Pengembangan lahan kritis sebagai kebun energi ini mesti diikuti oleh dukungan kebijakan, atau affirmative policy dari pemerintah. Baik dari sisi regulasi terkait‎ konversi lahan kritis tersebut,” (sumber ; detik.com)

Kurikulum Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Mahasiswa Harus Punya Keahlian Khusus Yang Bisa Bersaing Di Dunia Kerja

Selama ini, jamak pandangan masyarakat bahwa selembar ijazah pendidikan tinggi, terutama bukti gelar sarjana, merupakan kunci utama untuk mendapatkan pekerjaan impian. Namun, seiring makin banyaknya sarjana yang diproduksi institusi pendidikan tinggi, selembar ijazah tak cukup lagi.

Gejala ijazah pendidikan tinggi bukan jaminan mengantarkan ke dunia kerja setidaknya tergambar dalam data yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi. Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu alias bergelar sarjana. Dari jumlah itu, jumlah penganggur paling tinggi, 495.143 orang, merupakan lulusan universitas yang bergelar sarjana.

Pengangguran terdidik itu (baik berijazah diploma maupun strata 1) meningkat dibandingkan tahun 2013 dengan persentase penganggur lulusan perguruan tinggi sebesar 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

Sejumlah ahli pendidikan tinggi, seperti Wardiman Djojonegoro, dalam pemberitaan di Kompas, menyebutkan, terjadinya pengangguran terdidik merupakan kelindan berbagai faktor, seperti kurangnya lapangan pekerjaan, pertumbuhan perguruan tinggi dan program studi begitu pesat, serta minimnya kompetensi para lulusan atau tidak sesuainya kompetensi dengan kebutuhan pengguna tenaga kerja.

Faktor ketersediaan lapangan kerja merupakan hal kompleks tersendiri yang, antara lain, terkait dengan ketersediaan investasi memadai untuk menyerap tenaga kerja dari lulusan berbagai program studi, kinerja ekonomi nasional, dan kondisi ekonomi global.

Penyebab lain, seperti pengendalian mutu institusi pendidikan tinggi dan pembekalan kompetensi lulusan, sesungguhnya dapat lebih dikendalikan. Jangan sampai, ketika mencari pekerjaan, individu dalam usia produktif tidak memiliki keahlian tertentu sehingga dianggap tidak menarik bagi pencari kerja.

Kompetensi

Kesenjangan kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja sebenarnya sudah ada jalan keluar dengan adanya acuan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). KKNI merupakan kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia. KKNI menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam skema pengakuan kemampuan kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sektor pekerjaan.

Dengan KKNI, ijazah bukan segala-galanya. Berbekal kompetensi yang dimiliki, seseorang bisa memperoleh status setara dengan pemilik ijazah yang memperoleh lewat jenjang pendidikan tertentu.

Tentu saja pengelola perguruan tinggi harus mengubah paradigma, dengan tidak berpuas diri hanya memberikan ijazah kepada mahasiswa tanpa melihat kemampuan dan keterampilan alumninya.

Terbitnya KKNI menjadi kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia. Dengan demikian, kebutuhan pengguna dengan kompetensi tertentu lulusan perguruan tinggi dapat lebih didekatkan.

Perguruan tinggi juga perlu didorong bekerja sama dengan para pengusaha dalam membuka kesempatan magang bagi mahasiswa ataupun alumni yang baru lulus. Para lulusan setidaknya dapat memiliki secuplik gambaran nyata tentang dunia kerja yang akan dimasuki.

Satu hal yang perlu diluruskan ialah sering tercampurnya antara tujuan pendidikan tinggi yang bersifat akademis dan menciptakan manusia berpikir ilmiah dengan pendidikan vokasi yang bertujuan menyiapkan tenaga terampil siap kerja. Individu kadang berpikir bahwa dengan memegang gelar sarjana sudah mendapatkan semua yang dibutuhkan untuk bekerja. Padahal, tidak demikian.

Supaya jumlah penganggur bergelar sarjana berkurang, pemerintah perlu mendorong pengembangan pendidikan vokasi. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi berencana memprioritaskan pengembangan pendidikan vokasi.

Data Dikti menyebutkan, ada 1.357 akademi, 2.508 sekolah tinggi, 255 politeknik, dan 124 institut. Adapun universitas hanya ada 504. Artinya, mayoritas perguruan tinggi di Indonesia bergerak di bidang vokasi. Akan tetapi, jumlah program studi (prodi) vokasi hanya 20 persen dari total prodi yang ada. Dengan menambah program vokasi, diharapkan tercipta tenaga kerja terampil yang bisa segera diserap pasar.

Namun, perlu diingat, proses pendidikan di perguruan tinggi tak sekadar pencetak tenaga kerja dan berorientasi pasar. Terdapat sisi dan fungsi penting lain dari penyelenggaraan pendidikan tinggi, termasuk yang bergerak di pendidikan vokasi.

Seperti tertuang dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak ?serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam ?rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Fungsi lain ialah mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan ?kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma. Pendidikan tinggi juga berfungsi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai-nilai humaniora.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi tak hanya persoalan investasi individu untuk dapat bekerja, tetapi juga menentukan kesejahteraan bangsa dan peradabannya. (kompas.com)

Pengukuran Teknik Rotameter

Rotameter adalah suatu alat ukur yang mengukur laju aliran berupa cairan atau gas dalam tabung tertutup.

CODE DAN STANDARD :
ASME MFC-18M, Measurement of Fluid Flow Using Variable Area Meters.

Alat Ukur RotameterBahan Lengkap Mengenai Alat Ukur Rotameter dapat download disini :BAHAN KULIAH PENGUKURAN TEKNIK ROTAMETER

Bagaimana Nasib Perguruan Tinggi Dibawah MENRISTEK

Mungkin ini pertanyaan besar saat ini bagi kalangan perguruan tinggi, setelah beberapa dekade perguruan tinggi dibawah mendikbub. Harapan besar Presiden Jokowi untuk dapat mengarahkan perguruan tinggi melakukan riset yang terintegrasi sesuai dengan bidang keilmuannya sehingga bisa menghasilkan sebuah karya yang tidak hanya dalam bentuk kertas tapi juga dalam bentuk sebuah produk yang bisa membanggakan bangsa ini.

Selama ini banyak hasil riset yang hanya tertuang dalam bentuk  karya tulis berupa jurnal, buku ,proceeding dan baru sedikit yang bisa dimplementasikan, akhirnya banyak hasil penelitian anak bangsa yang dijual keluar kenegara yang bisa mewujudkan karyanya tersebut.

Harapan besar Presiden Jokowi ini tentunya juga merupakan harapan para peneliti dinegeri ini, jangan sampai ini hanya sebuah wacana, atau sebuah pembagian kewenagan kementrian saja yang pada akhirnya nasib peneliti tidak akan pernah berubah ………

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 365 pengikut lainnya.